Apa yang ada dibenak kalian ketika kalian mendapati
bahwa anak yang ada dalam rahim kalian meninggal karena tali pusar yang
terlilit. Sedih? Hopeless? Tidak tahu harus bagaimana? Belum ikhlas? Belum bisa
menerima kenyataan?
Yep. Benar. Memiliki anak setelah menikah, siapa
sih yang ga mau? Semua orang pasti mau dong. Apalagi ini adalah anak pertama. Anak
yang dinanti-nanti. Namun bagaimana perasaan kamu ketika anak yang kamu kandung
sendiri dalam rahimmu, harus pergi selamanya? For me, yang belum menikah, its
hurt me so much. Aku belum menikah, dan aku bisa merasakan rasa kehilangan dan
terpukul. Melalui Critical Eleven, melalui kisah Anya dan Ale, aku merasakan
kehilangan yang luar biasa. Mengerti perasaan Anya yang terus dihantui rasa
bersalah karena kehilangan Aidan, anak mereka. Menghadapi perasaannya
sendirian. Bagi kamu yang sudah menikah, tentu lebih bisa merasakannya. Lebih dalam
dan lebih sakit.
Kenapa aku bilang ini film indonesia yang i think,
amazing? Awesome? Luar biasa. Why? Karena setiap tuangan adegan, terasa nyata
adanya. Karena setiap adegan, mungkin..... or pasti, terjadi di dunia nyata. Melalui
Critical Eleven kita belajar, belajar mencintai, belajar ikhlas, dan belajar
mengontrol emosi atau ego. Bagiku, itu sulit hahaha. Secara kadang ego ku aja
masih gede. Ikhlas aja kadang susah. Mencintai? Aku tidak tahu apa mencintai
itu. Sampai skarang yang aku tahu adalah, mencintai seseorang dengan sepenuh
hati, menerima dia no matter what happen. Ga peduli dia ga ganteng lah, dia
norak, yang penting dia bisa ngehargai dan membuat kita nyaman. Asal jan
kebanyakan nuntut ya haha. Mumet kalo banyakan nuntut.
Back to Critical Eleven.
Gue saranin nih bagi yang mau nikah, barusan nikah,
atau udah nikah lama buat nonton film ini. Kenapa? Ya karena banyak yang bisa
diambil hikmahnya. And i love Harris Risjad, mesipun partnya dikit wkwkwkwk. I love
Anya, trenyuh pas Anya nyium tangan bayi mungil yang sudah berada di sisi-Nya. Karena
seorang ibu yang mengandung anak selama 9 bulan itu luar biasa.






