Yogyakarta,
25 November 2015
Pernah punya kabar yang lebih buruk? Pernah dikabari
kabar yang lebih buruk?
Itu yang gue rasakan. Itu yang gue rasakan. Sekarang.
Sakit.
She is a new family for me. For my life. Dan pagi
ini, ketika gue masuk kerja setelah seharian kemarin izin karna ada acara 1000
hari eyang putri, ketika pagi ini aku masih semangat, ketika aku duduk, dan
ketika dia mulai ‘menasehatiku’ dan ‘mengumumkan’ pengumuman bahwa dia akan ‘outbound’.
Sometimes, it hurt me. Somehow, like I feel I can losing her. My mom on my
work. My heroes. Shit!
Kabar yang baru gue tahu pagi tadi, yang gue baru aja
duduk di depan notebook buat ngerjain kerjaan gue. Tiba-tiba dia bilang ‘dek,
besok tak tinggal ya’ gue reflek jawab ‘mau kemana?’ dan dengan santainya dia
duduk didepan meja gue, tersenyum, dan bilang ‘mau pergi dan semoga bisa
kembali’. Nyessss. Setan! Gimana perasaan lo kalau lo yang dapet kabar begini? Di
kantor. Masih pagi dan di ruangan cumin berdua sama dia. Gue bengong doing dan
langsung nyeletuk ‘maksudnya?’ and she’s reactions just say ‘can you hug me?’
dan dengan perasaan campur aduk gue lari meluk dia. Dia nangis gue nangis. Gue gak
bisa gak berhenti menangis. Gue takut. Rumah sakit. Operasi. Musuh gue. Kebencian
gue akan rumah sakit. Ketidak percayaan gue akan rumah sakit. Rumah sakit yang
tak dapat menyembuhkan mamahku. Rumah sakit yang mempunyai dokter yang *maaf
gue khilaf* fucek! Dokter yang hanya bisa memberikan omongannya, menjual
omongannya, tanpa bukti tanpa tindakan yang konkret.
Operasi. Dokter. Rumah sakit. Entah mengapa membuatku
selalu teringat hal yang sangat ingin ku lupakan. But, memories can kill your
heart. Hurt. Sulit bagiku untuk percaya lagi dengan rumah sakit atau dokter
atau seisinya, sekeluarga yang berada di rumah sakit. Shit shit shit. Sakit.
Gue egois? Iya, gue egois. Gue melihat rumah sakit
dan isinya hanya dengan berkaca masa lalu. Munafik kalau gue udah mulai ‘tidak
membenci’ dan ‘percaya lagi’ dengan rumah sakit dan isinya. Gue takut. Gue takut
kehilangan orang yang udah gue anggep kakak, ibu di kantor, teman curhat yang
well di kantor, all about work with her. And the-shit-nya penyakit itu, orang
baik itu, cobaan itu, air mata ini dan kepedihan ini. Sakit. Gue gak bisa
cerita lebih rinci, tapi ini sakit bangettttt. Sakit.
Sampai sekarang, sampai pukul 17.06 pada tanggal 25
November 2015 ini, sampai detik ini gue menulis postingan ini, gue masih nahan
buat gak mewek lagi. Buat gak buang air mata di depan anak kantor yang masih
stay di kantor nunggu hujan berhenti. See, bumi aja nangis tahu berita paling
hurt di hidupku, gimana gue yang notabene lumayan dekat sama beliau. Gue takut
dia gak balik. Gue mau dia balik, gue mau dia sehat, gue mau ngasih kado natal
terindah buat dia kalau dia sehat dan balik ke kantor dengan senyum lebar dan
wajah cerah sambil meluk gue dan bilang ‘dek! Aku udah sembuh, puji Tuhan
dokternya baik dan penanganannya oke’. I want it. Just it. Bisakah aku
berharap, Tuhan? Ku mohon untuk sekarang, jangan kau kecewakan harapanku ini. Do’aku.
Rintihanku. Jeritan hatiku yang sedari tadi pilu.
Tawanya tadi siang. Sikapnya tadi siang. Suaranya seharian
ini. It’s hurt me so much. Entah kenapa gue takut pake banget. Gue takutnya
udah mikir macem-macem. Bukan paranoid, gue trauma.
Tuhan…
Jika kau izinkan hamba-Mu yang hina ini meminta
Aku hanya meminta satu hal
Hal yang akan membuatku tersenyum bahagia
Izinkan dia melihat dunia setelah operasi
Melihat anak-anaknya tumbuh dewasa
Melihat anak-anaknya juara dan dibutuhkan Negara
Melihat gue mempunyai seseorang dan menikah
Melihat gue ketawa dan misuh-misuh
Melihat gue yang dengan gak sengajanya ngelakuin
kesalahan
Tuhan…
Jika diizinkan, hamba-Mu ini bersujud saat mentari
belum terbit
Saat semua masih mengenakan selimut
Saat semua orang sedang tertawa dalam mimpinya
Saat semua orang terlelap
Aku menengadahkan tanganku hanya untuk meminta
Meminta hal yang wajar dilakukan seorang teman
Yang dilakukan seorang anak
Yang dilakukan seorang manusia
Meminta hal yang kau tak kabulkan ketika mamahku
sendiri yang sedang sakit
Aku mohon, sembuhkanlah dia
I need her so much
To be my friend
To be my mom at work
To be a partner in crime
To be a partner life at work
Tuhan…
Jika kau izinkan hamba-Mu ini meminta
Kembalikan dia saat dia sehat wal afiat
Kembalikan dia kepada suami, anak, dan orang tuanya
yang masih mengharapkan dia
Kembalikan dia kepadaku yang sangat menyayanginya
Kembalikan dia pada dunianya yang masih sangat
membutuhkannya
Bisakah, Tuhan?
Ku mohon.
I love her, like I love my mom.






0 komentar:
Posting Komentar